onsdag, november 09, 2005 

[proletar] Re: KKG : Apakah Bank Dunia pahami Indonesia?


Bank Dunia itu adalah sebuah BANK, artinya yang kita sebut bank itu
bukanlah koperasi, bukan juga Gereja, bukan Mesjid, bukan pesantren,
bukan tempat suci di Mekkah, dan juga bukan Departement Sosial.

Yang dinamakan Bank adalah istitusi keuangan yang menjual macem2
service mulai dari pinjam meminjam, simpan menyimpan, bunga membunga,
transfer mentransfer, dan lain2 product2 yang bisa berbeda dari satu
bank dengan lain bank.

Artinya sebagai penjual service, Bank itu menawarkan, menjual, dan
mempromosikan service mereka.  Oleh karena itu kalo ada yang berminat
untuk menggunakan jasa Bank, tentunya sang peminat harus mempelajari,
atau memahami service apa saja yang tersedia dari bank tersebut untuk
dimanfaatkan untuk kepentingan para peminat ini.

DEMIKIANLAH, ADALAH ABSURD KALO MENDISKUSIKAN JUDUL APAKAH BANK DUNIA
MEMAHAMI INDONESIA ATAU TIDAK !!!!  SEHARUSNYA JUDULNYA ITU DIBALIK,
APAKAH INDONESIA MEMAHAMI BANK DUNIA !!!!

Beginilah contoh penulis2 yang sel2 otaknya sudah rusak, asal tulis,
asal jiplak tanpa sama sekali mengerti apa yang dia sendiri mau
bicarakan.  Hal2 beginilah yang sudah berulang kali saya prihatinkan
tentang rusaknya kemampuan berpikir yang normal dari manusia2 yang
dibrainwash atau diracuni dogma agama sehingga tidak mampu
membicarakan masalah apapun diluar agama.  Menterjemahkan berita
sekalipun selalu salah interpretasinya.  Hal2 beginilah anda semua
bisa saksikan, titel2 mentereng dengan qualitas burem.  Engga peduli
agama apapun, asal jebolan sekolah yang pelajaran agamanya wajib,
hasilnya pasti menyedihkan meskipun kemudiannya sekolah ke luarnegeri
yang hasilnya tetap sia2.

Ny. Muslim binti Muskitawati.





--- In proletar@yahoogroups.com, "Holy Uncle" <holyuncle@h...> wrote:
>
> Apakah Bank Dunia pahami Indonesia?
>
> Berita utama harian ini edisi 6 November 2005 memuat pendapat Bank
Dunia
> tentang perekonomian Asia Timur, termasuk Indonesia. Nama
laporannya East
> Asia Update.
>
> Menurut laporan itu, target pertumbuhan yang telah ditetapkan
bersama oleh
> pemerintah dan DPR sebesar 6,2% untuk 2006 tidak akan tercapai.
Bank Dunia
> menetapkan target pertumbuhan Indonesia sebesar 5,5%-6%. Target
ini, masih
> menurut laporan itu, hanya bisa dicapai jika Bank Indonesia
berhasil menekan
> inflasi sampai 8%.
>
> Dikatakan juga bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia 2006 pun
tergantung pada
> kemampuan pemerintah mentransfer penghematan subsidi bahan bakar
minyak
> (BBM) untuk kebijakan yang lebih produktif.
>
> Selanjutnya, Vice President Bank Dunia untuk Asia Pasifik, Dr.
Jemal-ud-din
> Kasum menulis dalam laporan itu bahwa, "Proses penyesuaian ke harga
BBM yang
> lebih tinggi, lambatnya transisi pertambahan modal, dan pengeluaran
sektor
> sosial akan menyebabkan pertumbuhan yang rendah pada awal 2006
sebelum
> menguat pada 5,5%-6%."
>
> Siapa yang benar? Menurut pendapat saya, tidak ada yang benar
mutlak.
>
> Mengapa? Karena ekonomi bukan matematika, bukan ilmu kimia, dan
bukan pula
> ilmu alam. Maka setiap ramalan yang memakai angka tidak ada yang
tepat
> benar.
>
> Kita pernah mengalami prediksi seorang ekonom kenamaan yang pada
September
> 1996 mengatakan ekonomi Indonesia akan tumbuh 7,23% pada 1998.
Tetapi
> ternyata ekonomi Indonesia tidak tumbuh sama sekali, bahkan minus
13%.
>
> Belum lama ini hampir semua media massa menempatkan sebagai berita
utama
> ucapan seorang menteri yang mengatakan: "Kompensasi kenaikan harga
BBM
> dijamin tidak bocor." Tetapi kenyataannya penyaluran dana
kompensasi BBM itu
> kacau balau, bocor, bahkan dijual kepada orang kaya dengan diskon.
>
> Jadi, seluruh bon yang memberi hak kepada orang miskin menerima
santunan
> dijual dengan diskon 20%. Alhasil, si orang kaya dapat menanamkan
modalnya
> yang dijamin oleh pemerintah dengan yield sebesar 20% atas
penderitaan orang
> miskin.
>
> Dan yang dikatakan orang miskin itu juga belum tentu miskin. Ini
karena di
> antara yang antre ada yang tidak miskin mengingat dikenali oleh
penduduk
> desa atau kampung yang saling mengenal kekuatan ekonomi para
tetangganya.
> Ini pendapat ekonom Indonesia.
>
> Bagaimana dengan lembaga-lembaga peneliti yang "ilmiah" di
Indonesia? Hebat,
> pendapatnya selalu dikutip oleh media massa maupun ekonom dari
lembaga
> "bergengsi" yang bersangkutan dengan berbagai angka yang eksak.
>
> Kalau kita sabar menunggu sampai yang diramalkan itu menjadi
kenyataan,
> biasanya meleset. Tetapi tidak ada yang menelusuri ke belakang, dan
yang
> bersangkutan juga terus saja mengemukakan angka-angka ramalan
dengan sikap
> dan gaya "biar bodoh asal sombong."
>
> Itu tadi mengenai ahli serta lembaga-lembaga riset dan ilmiah di
Indonesia.
> Bagaimana dengan lembaga internasional, seperti Bank Dunia?
>
> Semua orang di dunia cenderung percaya terhadap apa yang dikatakan
oleh
> organisasi atau lembaga yang memiliki nama internasional. Di
Indonesia,
> kepercayaan kepada lembaga-lembaga seperti itu hampir mutlak.
>
> Anehnya, yang mempercayainya bukan orang awam. Mereka berpendidikan
tinggi
> di bidang yang sama. Seandainya mereka melamar menjadi tenaga ahli
di
> lembaga itu, besar kemungkinan diterima. Tetapi toh a priori
menempatkan
> diri sebagai lebih bodoh. Yang diberitakan angka-angka ramalan.
Tidak ada
> penjelasan bagaimana mereka tiba pada angka-angka itu?
>
> Menghadapi orang seperti itu, Presiden Soekarno-yang sering tak
memakai
> sepatu ketika memimpin sidang kabinet-menaikkan kakinya, menunjuk
jempol
> kakinya dan mengatakan "Dat weet mijn grote teen ook."
Artinya, "Kalau hanya
> ngomong tanpa penjelasan yang rinci, bagaimana tibanya pada angka
itu,
> jempol kaki saya juga tahu."
>
> Apakah ucapan ini berlaku bagi Bank Dunia? Menurut saya, tidak
mesti berlaku
> tetapi sangat bisa berlaku. Mengapa? Bank Dunia merupakan
organisasi. Yang
> menulis manusia, orang berpendidikan tinggi yang ketika melamar
pekerjaan
> dinilai memenuhi persyaratan Bank Dunia.
>
> Yang lain?
>
> Apakah di luar Bank Dunia tidak ada orang yang lebih pandai, lebih
> berpengalaman, dan lebih mengetahui kondisi Indonesia daripada
mereka? Jelas
> sangat banyak.
>
> Di Indonesia, hampir setiap ahli ekonomi yang terkenal sedikit saja
bertitel
> doktor, sama dengan Dr. Jamal-ud-din Kasum. Tetapi a priori para
ekonom
> Indonesia, terutama dari kelompok tertentu secara kejiwaan,
menempatkan diri
> sebagai lebih bodoh, lebih inferior, dan lebih "inlander."
>
> Mereka sama-sama tidak mempunyai perhitungan-perhitungan pembenaran
yang
> rinci, Bank Dunia mengatakan untuk mencapai pertumbuhan yang
tinggi, Bank
> Indonesia harus dapat mengontrol inflasi sampai tidak melebihi 8%.
>
> Untuk mengontrol inflasi, BI sebagai bank sentral mempunyai tiga
instrument.
> Yaitu, mengatur jumlah uang beredar dengan melakukan operasi pasar
uang,
> menentukan tingkat suku bunga, dan menentukan reserved requirement.
>
> Mengendalikan inflasi setelah inflasi dinaikkan oleh pemerintah
sampai
> begitu tinggi berarti tight money policy, instrumen yang mana pun
yang
> dipakai. Tight money policy berarti penghambatan pertumbuhan.
>
> Jadi, yang dikatakan Bank Dunia sebaliknya dari logika ini, yaitu
kalau BI
> memberlakukan penghambatan pertumbuhan, maka pertumbuhan ekonomi
akan bisa
> tinggi. Dengan logika murni sulit dicerna.
>
> Sangat mungkin Bank Dunia mempunyai model yang memasukan faktor-
faktor lain
> yang tidak diketahui oleh pembaca East Asia Update. Supaya Bank
Dunia
> kredibel, tunjukkan dong!
>
> Dikatakan bahwa pertumbuhan bisa dicapai dengan uang pemerintah
yang
> bertambah karena kenaikan harga BBM yang drastis. Lho, pemasukan
uang
> pemerintah dari rakyat kan berarti daya beli rakyat dari sektor
konsumsi BBM
> dikuras. Inflasi umum yang diakibatkan oleh kenaikan harga BBM yang
drastis
> juga menguras daya beli rakyat. Bagaimana dapat membuat ekonomi
tumbuh?
>
> Jawabnya, kan dikeluarkan lagi oleh pemerintah yang berarti
pemompaan daya
> beli? Betul, tetapi sebelum dipompa dengan daya beli, daya beli
masyarakat
> dikuras terlebih dahulu. Mana yang lebih besar, tidak dikemukakan
oleh Bank
> Dunia dan oleh Dr. Djamel-ud-din Kasum.
>
> Sudah menjadi perdebatan dalam bangku kuliah, apakah kebijakan
fiskal ada
> gunanya bagi pemerintah yang tidak memiliki tabungan dan
menggunakan
> tabungannya untuk memompa daya beli?
>
> Kalau pemerintah memperlemah daya beli dengan RpX melalui pajak,
kenaikan
> harga BBM dsb, dan juga memompakan daya beli sebesar RpX juga untuk
berbagai
> pengeluarannya, bukankah dampaknya netral? Untuk hal ini sudah ada
hipotesa
> yang dianggap cukup kredibel, yaitu yang dikemukakan oleh ekonom T.
> Haavelmo.
>
> Penjelasannya rumit, tetapi intinya mengatakan kebiasaan
berkonsumsi,
> terutama dari golongan kaya, sulit diubah. Jika golongan
kaya/terkaya yang
> dipajaki, mereka tidak akan susut dengan pengeluarannya, karena
mereka
> memiliki tabungan yang besar.
>
> Tak diungkap
>
> Tabungan tersebut yang tadinya menganggur akan dibelanjakan. Bagi
saya, OK
> saja, tetapi harus disertai dengan data tentang propensity to
consume,
> propensity to save dsb. Semuanya ini tidak dikemukakan. Tanpa ini,
teori T.
> Haavelmo belum tentu berlaku!
>
> Dengan Wakil Presiden Bank Dunia Dr. Djamel-ud-din Kasum saya
pernah
> berdebat tentang pengertian aid (bantuan) dan loan (utang) yang
olehnya
> sejak awal sampai saat ini dikacaukan.
>
> Ketika itu saya mewakili pemerintah Indonesia, disuruh memberi
uraian
> tentang efektivitas dari bantuan di Indonesia.
>
> Saya menjelaskan bahwa pertama dia harus mengakui terlebih dahulu
bahwa dia
> membuat kesalahan fatal dan menyesatkan dengan menyebut utang
Indonesia dari
> CGI dan lembaga-lembaga internasional disebut aid (bantuan), bukan
loan
> (utang).
>
> Konsekuensinya besar, karena alat ukur untuk efektivitas dari
bantuan dengan
> efektivitas dari utang yang harus dibayar kembali beserta bunganya
> sangat-sangat berlainan.
>
> Kalau sudah kepepet begitu lantas main pokrol. Dia mengatakan utang
bisa
> disebut bantuan karena bunganya rendah. Untung ada delegasi anggota
CGI yang
> membela pendirian saya.
>
> Terkait dengan itu adalah konsepnya tentang membayar utang dengan
menjual
> BUMN. Saya minta dibayangkan adanya pengusaha yang mendirikan
pabrik dengan
> uang utangan. Ketika utang harus dibayar, sang pengusaha tidak
mempunyai
> uang.
>
> Utang tersebut kemudian dibayar dengan menjual perusahaanya dengan
rugi.
> Lantas dia mendirikan pabrik lagi dengan pola yang persis sama.
Orang ini
> oleh para delegasi CGI pasti dianggap insane (tidak waras). Tetapi
Bank
> Dunia yang memimpin CGI beserta seluruh anggota CGI menyuruh
pemerintah
> Indonesia berbuat yang insane ini, yaitu membayar utang dengan
menjual BUMN.
>
> Nah, kalau sudah seperti ini, biasanya lantas memasang muka yang
sinis
> dengan sikap "biar bodoh asal sombong" dan "biarkanlah anjing [Kwik
Kian
> Gie] menggonggong, khafilah [Bank Dunia cs] tetap berlalu."
>
> Oleh Kwik Kian Gie
> Mantan Menneg PPN/Kepala Bappenas
>
> http://www.bisnis.com/servlet/page?
_pageid=127&_dad=portal30&_schema=PORTAL30&vnw_lang_id=2&ptopik=A01&cd
ate=07-NOV-2005&inw_id=401362
>






Post message: proletar@egroups.com
Subscribe   :  proletar-subscribe@egroups.com
Unsubscribe :  proletar-unsubscribe@egroups.com
List owner  :  proletar-owner@egroups.com
Homepage    :  http://proletar.8m.com/




YAHOO! GROUPS LINKS




Google

s√łndag, november 06, 2005 

[proletar] Hukum Agama Pembawa Malapetaka !!!

Berita headline di-Indonesia tentang seorang Kolonel AL yang membunuh
isterinnya dan hakimnya dalam sidang pengadilan Agama yang memutuskan
kasus perceraian telah dibaca oleh seluruh rakyat Indonesia.  Namun,
komentar, ulasan, maupun analisis baik secara hukum resmi maupun
hukum Islam hingga detik ini belum terbaca oleh kita semua.

Kasusnya sangatlah sederhana dan umum, seharusnya kita semua
menganalisa, mengkomentari, ataupun memberikan opini berdasarkan
berbagai sudut pandang hingga kasus yang berulang seperti ini dari
zaman dahulu kala tidak perlu berulang dizaman modern sekarang ini.

Semua pembaca maupun berita koran hanyalah menyalahkan pelakunya
yaitu sang suami yang dalam hal ini adalah Kolonel ALRI.  Saya justru
sebaliknya, kesalahan 100% berada dalam hukum agamanya, hakimnya,
pengadilannya, dan Negaranya itu sendiri.  Baiklah kita bahas
kasusnya secara singkat dibawah ini.

Sang Kolonel sangatlah berang atas keputusan pengadilan Agama yang
memutuskan pembagian harta dalam kasus perceraian ini, bahwa harta
dibagi dua (artinya 50% dan 50%).  Akibat keputusan pengadilan agama
yang dianggap tidak adil inilah sang Kolonel membunuh Hakim dan
Isterinya dalam sidang pengadilan tersebut.

Negara ini memang kacau dalam memberlakukan UU negaranya karena
berlaku hukum negara dan hukum Agama.  Padahal untuk bisa adil, hukum
dalam satu negara haruslah satu dan berlaku untuk semua.  Namun dalam
kasus ini sebaiknya kita tidak menganalisa hukum Negara atau Hukum
agamanya secara umum, melainkan memfocuskan kepada pengadilan Agama
yang seharusnya diputuskan oleh Pengadilan agama dalam kasus ini.

Dalam hukum Islam, Suami berhak menceraikan isterinya dengan memberi
pesangon berupa kebutuhan hidup tidak kurang dari 6 bulan.  Hukum
Islam tidak mengenal pembagian harta secara fifty2 seperti yang
diputuskan oleh pengadilan Agama dalam kasus Kolonel ini.

YANG MENJADI PERTANYAAN DALAM KASUS INI:  ATAS DASAR HUKUM AGAMA MANA
PENGADILAN AGAMA DALAM KASUS INI BISA MEMUTUSKAN PEMBAGIAN HARTA YANG
FIFTY2 INI SEHINGGA MEMBUAT SANG KOLONEL JADI BERANG SEHINGGA
BERAKIBAT TERBUNUHNYA SEORANG HAKIM DAN ISTERI KOLONEL?????????

Hukum Negara diseluruh dunia (negara2 maju) memang berlaku bahwa
pembagian harta dalam kasus perceraian memang berlaku fifty2, dalam
hal ini juga berlaku dalam hukum negara di Indonesia.  Namun dalam
kasus atau kejadian disini, keputusan pembagian harta yang fifty2 ini
bukanlah dalam pengadilan yang berdasarkan hukum Negara melainkan
pengadilan Agama Islam lah yang memberi keputusan seperti ini.

Berdasarkan hukum Islam sudah jelas, harta adalah milik suami karena
Islam tidak membolehkan Isteri bekerja mencari nafkah, bergaji diluar
rumah tangga.  Wanita dilamar oleh Laki2 kepada orang tua atau wali
dari gadis itu setelah disetujui tawar menawar jumlah mahar yang
harus dibayarkan sang Laki2 kepada orang tua atau wali gadis yang
dilamarnya.  Atas dasar inilah, sangat tidak relevan apabila isteri
dianggap memiliki harta, darimana hartanya ????  Isteri dalam Islam
bisa memiliki harta, namun dalam hal ini, hartanya berasal dari harta
suaminya.

BERBEDA DENGAN NEGARA MODERN DIZAMAN SEKARANG DIMANA SEORANG ISTERI
BEBAS BEKERJA, BEBAS MEMILIKI KEKAYAAN, DAN BEBAS MEMILIH SUAMI TANPA
ADA KEWAJIBAN MAHAR.  ADALAH WAJAR KALO DALAM HUKUM PERCERAIAN
DINEGARA MODERN MENGHARUSKAN HARTA DIBAGI DUA KARENA HAK SUAMI SAMA
DENGAN HAK ISTERI.

Dalam kasus ini, sang isteri adalah anak kesayangan seorang Laksamana
Angkatan Laut yang kaya raya yang bahkan membiayai semua biaya
perkawinan maupun biaya berumah tangga anak wanitanya ini.  Sang
suami hanya modal dengkul karena masih menjadi siswa Akmil yang belum
bergaji sewaktu mereka menikah sehingga tak mungkin bisa tawar
menawar mahar yang artinya tidak ada mahar melainkan sekedar simbolis
saja berupa kitab suci AlQuran yang dianggapnya sebagai mahar.

Rumah, mobil, alat2 rumah tangga, bahkan biaya hidup se-hari2 yang
mewah itu semuanya berasal dari isterinya yang juga seorang
pengusaha.  Oleh karena itu, sangatlah tidak adil kalo pengadilan
memutuskan harta semuanya menjadi milik suami seperti yang berlaku
dalam hukum Islam.  Oleh karena itu, demi keadilan yang hakiki,
pengadilan Agama Islam melanggar hukum Islam yang tidak adil ini
dengan memutuskan pembagian harta secara fifty2.

ADALAH SALAH ALAMAT KALO MEMBENARKAN KEPUTUSAN PENGADILAN AGAMA ISLAM
YANG MEMUTUSKAN PEMBAGIAN HARTA SECARA FIFTY2 SEMENTARA HUKUM
ISLAMNYA MENYATAKAN SEMUA HARTA ADALAH MILIK SUAMINYA.

SEHARUSNYA KALO MEMANG HUKUM ISLAM DIRASAKAN TIDAK ADIL KARENA HARTA
DALAM PERCERAIAN KESELURUHANNYA ADALAH MILIK SUAMI, SEWAJARNYALAH
PENGADILAN PERCERAIAN INI TIDAK DILAKUKAN OLEH PENGADILAN AGAMA
MELAINKAN OLEH PENGADILAN NEGARA.

Bukankah lebih baik apabila sang Hakim di pengadilan agama memberi
keputusan tunda karena pengadilan Agama Islam tidak berwenang memberi
keputusan dalam kasus perceraian disini berdasarkan kenyataan bahwa
bentuk keluarga dalam kasus ini tidak memenuhi kriteria bentuk
keluarga yang berlaku dalam hukum Islam dimana sang Isteri tidak
memiliki harta dan tidak bekerja ?????

Pengadilan Agama tidak seharusnya memberi keputusan melainkan
mengoperkan kasus perceraian ini kepada pengadilan yang tidak
berdasarkan agama sehingga sang suami bisa memperhitungkan untung
ruginya dalam menceraikan isterinya ini.

AKIBAT KEPUTUSAN PENGADILAN AGAMA YANG TIDAK SAH INILAH TIMBUL
MALAPETAKA PEMBUNUHAN YANG MENGERIKAN INI.  KEJADIAN INI BUKANLAH
YANG PERTAMA KALI, MASIH ADA RIBUAN KEPUTUSAN2 SEPERTI INI DI SELURUH
INDONESIA MESKIPUN TIDAK SELALU MENGAKIBATKAN PEMBUNUHAN SEPERTI YANG
TERJADI DALAM KASUS INI.

Ny. Muslim binti Muskitawati.






Post message: proletar@egroups.com
Subscribe   :  proletar-subscribe@egroups.com
Unsubscribe :  proletar-unsubscribe@egroups.com
List owner  :  proletar-owner@egroups.com
Homepage    :  http://proletar.8m.com/




SPONSORED LINKS
Writing book Writing child book Business writing book
Creative writing book Writing book for child course


YAHOO! GROUPS LINKS




Google

Tentang Proletar

  • Proletar adalah x
  • Berasal dari
Profil Proletar

Penyumbang Partai

Didukung oleh kawan Blogger
dan Blogger Templates